Oleh : Nesta Makuba, Simone Welano, Mohamad Hajazi

Sejumlah Calon Legislatif dari utusan Masyarakat Adat di berbagai daerah masih terus berjuang mengawal perolehan suara yang diraihnya dalam pemungutan suara pada Pemilu 2024 kemarin.

Mereka harap-harap cemas dengan hasil penghitungan suara yang hingga kini masih  berlangsung di masing-masing daerah.

Ketua PD AMAN Jayapura Benhur Wally yang maju sebagai calon legislatif  Provinsi Papua dari Partai Nasdem mengaku cemas dengan perolehan suara yang diperolehnya di Pemilu Legislatif (Pileg) kemarin. Ia khawatir suaranya dicurangi.

Benhur yang maju dari Dapil 3 meliputi Kabupaten Jayapura ini menyebut sejauh ini baru mengantongi 600 suara di wilayah Sentani Kota. Suara keseluruhan dari 19  Distrik di Kabupaten Jayapura belum masuk.

“Masih banyak suara yang belum masuk, dikhawatirkan akan terjadi kecurangan di penghitungan akhir nanti,” kata Benhur Wally saat dihubungi pada Kamis (15/2/204).

Benhur menambahkan kecurangan itu sudah mulai terlihat di depan mata. Menurutnya, para penyelenggara Pemilu seperti KPU dan Bawaslu harus intens mengawasi kecurangan ini.

“Saya rasa Pemilu kali ini kacau, penyelenggaranya seolah tak berdaya menghadapi kecurangan yang tidak terbendung ini," ujarnya.

Tokoh Masyarakat Adat Robert Kromsian,  Caleg DPRD Kabupaten Jayapura dari Partai Nasdem mengaku belum mengetahui seberapa besar peroleh suaranya di TPS. Namun, ia mendapat informasi perolehan suaranya dicurangi. Robert Kromsian yang maju dari Dapil 3 meliputi distrik Waibu, Ebungfauw, dan Sentani Timur ini menyebut kampung Dondai Distrik Waibu Kabupaten Jayapura merupakan basis lumbung suaranya, namun perolehan suaranya di wilayah itu hanya 66 suara.

“Ini tidak masuk akal, di lumbung suara saya sendiri hanya dapat 66 suara,” ungkapnya.

Robert Kromsian menduga telah terjadi praktek  money politik yang dilakukan oleh caleg lain sehingga perolehan suara saya sedikit di lumbung sendiri.  Ia mengaku tidak bisa menghalangi masyarakat untuk tidak melayani money politik tersebut sebab itu hak mereka.

“Kami tidak bisa membendung praktek money politik ini,” katanya.

Robert Kromsiam menyebut selain di Dondai,  ada beberapa distrik lainnya yang menjadi lumbung suaranya turut digempur caleg lain dengan money politik. Karenanya, Robert pesimis dapat mendulang suara di basisnya itu yang meliputi Doyo Baru, Doyo Lama,  Kwadewar dan sebagai Sentani Barat.

Caleg Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Timur

Petrus Plain, salah satu kader AMAN yang menjadi calon legislatif DPRD Kabupaten Sikka menyatakan peluangnya untuk maju sebagai anggota parlemen semakin kecil karena perolehan suaranya tidak signifikan. Namun demikian, Petrus tidak berkecil hati. Dia merasa perjuangannya sudah maksimal untuk menarik simpatik agar masyarakat memilihnya.

“Saya sudah berusaha maksimal, tapi hasilnya masih belum sesuai harapan,” kata Petrus yang kini masih memantau perkembangan perolehan suaranya di Dapil III Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Petrus mengatakan AMAN menginginkan adanya kader politik utusan Masyarakat Adat bisa terakomodir menjadi wakil rakyat di parlemen yang bisa memperjuangkan kepentingan Masyarakat Adat, karenanya program perluasan partisipasi politik Masyarakat Adat harus dilakukan secara berjenjang dan terus menerus, baik dari tingkat akar rumput, para pengurus daerah maupun pengurus wilayah serta organisasi sayap AMAN.

Namun, sebut Petrus, jika kita hanya sekedar mengamankan program atau menghabiskan anggaran maka setiap 5 tahun AMAN akan memanen hasil yang sama dimana Masyarakat Adat tidak bisa terkonsolidasi dengan baik dalam satu kekuatan besar untuk memenangkan kadernya sendiri dalam kontestasi Pemilu.

Menurutnya, hal ini tidak boleh terjadi, apabila tetap dibiarkan maka perjuangan Masyarakat Adat akan semakin sulit ke depannya.

“Tidak bisa kita harapkan orang lain di DPR yang menyelesaikan masalah internal Masyarakat Adat. Harus kita sendiri yang menyelesaikannya,” tandasnya.

Caleg Masyarakat Adat dari NTT Dokumentasi AMAN

Caleg Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Barat

Hingga hari kelima pasca pencoblosan, belum ada nampak satu pun calon legislatif dari utusan Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Barat yang bakal melenggang ke parlemen.

Ketua Pengurus Harian Daerah AMAN Sembalun, Junaedi misalnya, posisi perolehan suaranya sebagai Caleg DPRD Kabupaten Lombok Timur hingga kini belum jelas.

Junaedi maju sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPRD Lombok Timur melalui Partai Nasdem Nomor Urut 7 dari Daerah Pemilihan 5 meliputi Kecamatan Sembalun, Suela, Wanasaba, Pringgabaya, Sambelia.

Azmi, salah seorang tim sukses Junaedi menyatakan sejauh ini peluang Junaedi untuk duduk di DPRD Lombok Timur belum bisa dipastikan karena masih menunggu penghitungan suara dari seluruh TPS.

Sama dengan Junaedi, sejumlah kader AMAN yang ikut bertarung sebagai Caleg di Kabupaten Bima juga belum tahu peluangnya untuk duduk di parlemen seperti Ketua Ketua PHD AMAN BIma Ayaturahman yang maju sebagai Caleg dari PKB.

"Kami masih belum bisa memastikan hasil finalnya karena masih berlangsung proses rekapitulisasi suara di Kecamatan,” kata Ade Purnawirawan, mantan Dewan Pemuda Adat Regional Bali-Nusa Tenggara.

Ditanya peluangnya, Ade mengatakan peluang untuk bisa merebut satu kursi masih terbuka. “Kami berharap yang terbaik dan terus mengawal proses rekapitulisasi ini," ujarnya.

Caleg Masyarakat Adat dari NTB Dokumentasi AMAN

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Papua, NTT dan NTB

Tag : Caleg Utusan Masyarakat Adat Kawal Suara Pemilu