Oleh Adrian Lawe*

Masyarakat Adat di Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan masyarakat yang masih terikat kuat dengan tradisi serta adat dan budaya, salah satunya ritual penghormatan terhadap arwah leluhur. Bagi mereka, penghormatan tersebut adalah kewajiban mutlak. Masyarakat Adat di sana meyakini bahwa arwah leluhur memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan keberadaannya tidak boleh diremehkan, apalagi diabaikan jika tak ingin ditimpakan bencana bagi yang melanggar aturan adat.

Dalam keyakinan orang
Wolomotong, manusia memiliki keterbatasan akal dan tidak memiliki daya kekuatan apa pun dibandingkan leluhur. Leluhur memiliki kehidupan abadi dan kekuatan supranatural yang dapat mengatur hidup manusia. Maka, penting bagi manusia untuk membangun relasi yang erat dengan leluhur.

Piong di Ulu Higun. Sumber foto: Dokumentasi pribadi.

Pengertian Ritual Tung Piong dan Berbagai Jenis Mahe
Tung Piong adalah salah satu ritual adat penghormatan terhadap arwah leluhur yang masih dipraktikkan dan mendarah daging bagi orang Wolomotong. Ada ungkapan dalam bahasa Sikka, yakni "eat naha piong tinut naha tewok." Artinya, makan dan minum harus selalu ingat leluhur dengan tidak boleh lupa memberinya makan dan minum.

Nama piongberasal dari bahasa Sikka yang bermakna memberi makan leluhur melalui sesaji atau persembahan kepada keluarga yang meninggal. Tempat untuk melaksanakan Piong, disebut mahe yang berupa batu.

Mahe sendiri terdiri dari beberapa jenis untuk mengaitkannya dengan tujuan ritual-ritual, antara lain:

  1. Mahe Uru Tada dilaksanakan untuk meminta dukungan leluhur agar menjauhkan masyarakat dari bencana dan penyimpangan perilaku manusia, misalnya mencuri;
  2. Mahe Ai Tali Watu Bao dilaksanakan untuk meminta dukungan atas usaha atau kebutuhan tertentu dari arwah keluarga dalam satu moyang;
  3. Mahe Ai Pua dilaksanakan - bagi pemilik kebun dan letaknya di tengah-tengah kebun - saat seseorang mau menanam dan memanen hasil pertanian;
  4. Mahe Uran Dara dilakukan untuk meminta doa leluhur agar memberikan hujan dan panas;
  5. Mahe Dira Ngang dilaksanakan saat ada perang dengan tujuan meminta dukungan leluhur agar memberikan kekuatan dan perlindungan dalam menghadapi musuh serta biasa di pergunakan untuk meminta kekuatan dari leluhur terhadap seorang anak laki-laki yang baru dilahirkan agar kelak kuat dan perkasa;
  6. Mahe Watu Mahang Uluh Higun yang letaknya di dalam rumah, tepatnya di sudut kamar sebelah kanan rumah, dan dilakukan untuk memberi makan dan meminta doa dukungan dan perlindungan dari leluhur dalam suatu keluarga;
  7. Mahe Lodo kusang dilaksanakan untuk mengenang dan mendoakan arwah leluhur dalam satu suku;
  8. Mahe Tung Goit dilakukan untuk membuang sial atas peristiwa atau kejadian buruk yang dialami masyarakat;
  9. Mahe Rego Tana Bait dilakukan pada saat seseorang mau membuka lahan atau mau membangun rumah, di mana ritual ini hanya bisa dipimpin dan dilaksanakan oleh tuan tanah setempat;
  10. Mahe Lian Puan Wair Matan dilakukan saat acara peminangan seorang lelaki terhadap seorang perempuan yang masih memiliki hubungan darah dengan tujuan untuk memperkuat dan mempererat hubungan keluarga dari kedua belah pihak; dan
  11. Mahe Dadi Supan dilakukan untuk memperkuat dan meresmikan perjanjian atau kesepakatan bersama terhadap suatu perkara antara dua orang atau lebih agar tidak boleh dilanggar (jika dilanggar, maka yang melanggar akan mendapatkan musibah atau bencana).

Proses Ritus Adat Tung Piong
Proses Tung Piong terbagi ke dalam dua proses, yaitu proses ritus Tung Piong pada perayaan besar dan proses ritus Piong pada perayaan kecil. Dalam pelaksanaannya, bahan yang biasa dijadikan sesaji, terdiri dari telur ayam kampung, ekor ikan, beras satu genggam - dalam bahasa Sikka disebut "ian kekor pare weran," - dan makanan yang sudah dimasak.

Dalam ritus Tung Piong pada acara perayaan besar, biasanya bahan untuk ritual yang lebih dulu dijadikan sebagai sesaji, adalah beras. Kemudian yang berikutnya, baru menggunakan makanan yang sudah dimasak. Tetapi, tidak semua jenis makanan yang telah dimasak, digunakan untuk Tung Piong karena pada acara besar, hanya menggunakan nasi, kuah seadanya, hati daging babi, dan moke (minuman tradisional setempat yang didapat dan diolah dari pohon enau). Sementara itu, Tung Piong pada acara kecil atau hanya sekedar meminta doa, dukungan, dan memberitahukan sesuatu rencana yang telah dilaksanakan. Biasanya, ritual itu menggunakan makanan yang sudah dimasak dan disesuaikan dengan masakan yang ada.

Tata cara ritual Tung Piong pada acara besar dan acara kecil pun sama. Pembedanya hanya makanan yang dipergunakan. Pemimpin ritual biasanya orang yang tertua dalam keluarga atau tetua adat yang dipercayai untuk memimpin ritual. Tahapan ritual mencakup:

  1. penyiapan bahan untuk ritual;
  2. pengantaran bahan untuk Piong ke mahe yang dituju;
  3. pemimpin ritual memanggil keluarga pihak perempuan dan laki-laki dari keluarga bersangkutan yang menjalankan acara tersebut untuk berkumpul bersama di dekat mahe;
  4. setelah bahan untuk ritual disiapkan dan keluarga yang bersangkutan berkumpul, barulah pemimpin ritual mengambil bahan yang disiapkan untuk meletakkannya satu per satu di atas mahe, kemudian pemimpin ritual menyampaikan semua maksud dan tujuan serta meminta dukungan dan doa kepada leluhur, lalu ditutup dengan mengajak para leluhur untuk makan bersama; dan
  5. usai pemimpin ritual menyampaikan tujuan dan telah mengajak leluhur untuk makan, ritual selesai ditandai dengan semua peserta ikut makan bersama.

Masyarakat Adat Wolomotong memiliki keyakinan kuat bahwa dengan memberikan kurban atau sesaji pada saat ritus Piong, maka segala hal yang direncanakan dan diperjuangkan dalam hidup, akan selalu mendapat restu dari leluhur. Oleh karena itu, tradisi Tung Piong kini telah menjadi tradisi yang melekat erat dan mendarah daging dalam setiap pribadi orang Wolomotong.

***

*Penulis adalah pemuda adat dari Masyarakat Adat Sikka Krowe di Kabupaten Sikka, NTT