Tradisi Menanam Padi di Tano Batak Terhenti Akibat Bencana
19 Januari 2026 Berita Jakob SiringoringoOleh Jakob Siringoringo
Sekitar 90 persen persawahan di komunitas Masyarakat Adat Pansur Batu, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara rusak akibat dihantam banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025 lalu.
Masyarakat Adat Pansur Batu memperkirakan persawahan yang rusak tersebut tidak akan lagi bisa dikelola sepanjang tahun 2026 karena telah tertimbun lumpur tebal dan material kayu. Kondisi ini membuat Masyarakat Adat frustrasi, sekaligus bersedih karena tradisi menanam padi terhenti seiring rusaknya sawah mereka.
“Untuk kembali bertanam padi kemungkinan sangat kecil kalau memanfaatkan tenaga manusia, sebab sawah kami sudah tertimbun lumpur, kecuali ada alat berat yang mengeruk sawah,” ungkap Lidia Simanjuntak, salah seorang warga komunitas Masyarakat Adat Pansur Batu yang sawahnya rusak tertutup material longsor.
Lidia menyebut persawahan Masyarakat Adat Pansur Batu yang rusak tertimbun lumpur tersebar di 10 titik. Dari kesepuluh titik sawah tersebut, imbuhnya, Masyarakat Adat biasanya bisa mendapatkan hasil sekitar 77 ton gabah sekali panen.
Lidia mengatakan Masyarakat Adat Pansur Batu hanya sekali setahun menanam padi. Tapi, sekali tanam padi hasilnya cukup untuk kebutuhan satu tahun.
Karenanya meski sawah mereka rusak dilanda bencana, secara hitung-hitungan kasar, kata Lidia, Masyarakat Adat Pansur Batu masih bisa makan sepanjang 2026 dari hasil panen padi sebelum bencana November 2025.
“Hasil panen padi di akhir 2025 lalu bisa untuk makan hingga Agustus 2026,” kata Lidia belum lama ini.
Keterikatan Dalam Tradisi
Lidia menjelaskan padi yang ditanam Masyarakat Adat mempunyai keterikatan yang panjang dalam tradisi, khsususnya pada upacara adat. Itu sebabnya, selain untuk kebutuhan pangan, padi juga punya makna sebagai simbol tak tergantikan dalam upacara adat.
“Padi selalu hadir dalam upacara adat pernikahan maupun kematian. Padi memiliki ikatan dalam tradisi kami,” kata Lidia.
Disebutkan, dalam adat harus ada padi sebagai simbol penguat jiwa (eme si pir ni tondi). Meskipun ketersediaannya semakin menipis karena dampak bencana, namun padi akan tetap diupayakan ada dalam kehidupan Masyarakat Adat.
“Itulah pentingnya padi dalam tradisi,” ujarnya.
Hidup Masyarakat Adat Tergantung Dari Sawah
Ketua Dewan AMAN Daerah Tapanuli Utara Polin Silalahi mengatakan sawah produktif milik Masyarakat Adat ini merupakan sebuah jalan kedaulatan pangan yang telah berlangsung turun-temurun. Kemampuan ini didukung sikap Masyarakat Adat Pansur Batu yang tidak memperjualbelikan padinya kepada orang lain.
Sayangnya, kata Polin, sawah-sawah tersebut tidak bisa lagi bisa ditanami padi karena dirusak banjir bandang dan longsor.
Polin mengaku sedih mengetahui sawah yang menjadi tulang punggung kehidupan Masyarakat Adat telah rusak diterpa bencana. Polin yakin bencana yang meluluhlantakkan persawahan Masyarakat Adat tidak datang begitu saja tanpa penyebab.
“Penyebabnya itu karena kawasan hutan adat Pansur Batu telah berubah fungsi menjadi Perkebunan Kayu Rakyat (PKR). Diperkebunan ini ada 1.000 hektar tanaman eukaliptus yang menjadi bahan baku PT Toba Pulp Lestari,” katanya.
Polin menambahkan tadinya lokasi PKR adalah kantong air untuk irigasi. Namun, kini berubah fungsi menjadi perkebunan. Alhasil, saat intensitas hujan tinggi, hulu sungai yang menjadi lokasi PKR tidak mampu lagi menampung air.
“Limpahan airnya seketika berubah menjadi malapetaka. Inilah yang kami rasakan dampaknya saat ini,” terangnya.
Terkait pemulihan sawah, Polin minta pemerintah segera mendatangkan bantuan alat berat untuk membersihkan sawah mereka dari tumpukan lumpur dan kayu.
“Saya berharap ada bantuan alat berat untuk membersihkan sawah, kalau mengharapkan tenaga manusia mencangkul, memang bisa tapi tidak tahu butuh berapa lama,” sambungnya.
Menurutnya, perbaikan sawah perlu segera dilakukan mengingat selama ini kehidupan Masyarakat Adat tergantung dari sawah.
“Untuk kebutuhan sehari-hari Masyarakat Adat Pansur Batu 65 persen bersumber dari sawah, selebihnya 20 persen dari kemenyan dan 15 persen tanaman-tanaman muda,” sebutnya.

Persawahan Masyarakat Adat Pansur Batu di Kabupaten Tapanuli Utara tertimbun lumpur dan material kayu. Dokumentasi AMAN
Akibat Alih Fungsi Lahan
Hal senada disampaikan Maruli Tua, warga komunitas Masyarakat Adat Pansur Batu lainnya. Ia menyatakan penyebab banjir yang melanda perkampungan Masyarakat Adat akibat adanya penebangan hutan untuk penanaman eukaliptus. Maruli Tua menegaskan perkebunan eukaliptus telah membawa dampak buruk bagi Masyarakat Adat Pansur Batu.
“Masyarakat Adat telah menjadi korban dari penanaman eukaliptus. Hutan ditebangi menjadi tanaman eukaliptus. Ini semua kerjaan mafia tanah,” tandasnya.
Maruli berharap pemerintah memberikan perhatian serius terkait bencana yang disebabkan alih fungsi lahan ini. Ia minta seluruh alih fungsi hutan ke tanaman eukaliptus ditertibkan agar tidak lagi terjadi bencana di kemudian hari.
“Bencana yang terjadi saat ini seharusnya menjadi pelajaran, pemerintah harus menertibkan seluruh aktivitas alih fungsi lahan di hutan adat agar kami bisa kembali bercocok tanam,” katanya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Tano Batak, Sumatera Utara