Kembang Semangkuk, Buah Dewa dari Jantung Rimbang Baling Riau
21 Januari 2026 Berita Nuskan SyarifOleh Nuskan Syarif
Kembang semangkuk tumbuh subur di Jantung Rimbang Baling, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Tanaman jenis buah yang memiliki bahasa latin Sterculia Lychnophora ini banyak diburu oleh kaum laki-laki dari Lima Kenegerian : Malako Kociak, Gajah Bertalut, Aur Kuning, Terusan, Pangkalan Serai.
Kembang semangkuk ini diburu hingga ke hutan karena harganya cukup menggiurkan. Saat musim tiba pada Januari 2026 ini, harga kembang semangkuk yang setengah kering bisa mencapai Rp 125.000 per kg. Sementara, harga kembang semangkuk yang basah Rp 95.000 per kg.
Zainal, salah seorang pencari kembang semangkuk dari Kenegerian Terusan mengatakan biasanya pada musim besar antara bulan Oktober 2025 hingga Januari 2026, banyak kaum laki-laki yang berburu kembang semangkuk ke hutan. Hasilnya bisa mencapai sekitar 100 – 200 kg per kelompok. Dalam satu kelompok biasanya berjumlah 6 orang.
Zainal memgaku pernah ikut berburu kembang semangkuk bersama rekan-rekannya. Mereka membentuk satu kelompok yang beranggotakan enam orang. Hasilnya, mereka mendapatkan sekitar 150 kg kembang semangkuk.
“Kalau dihargai dengan uang sekitar Rp. 15. 000.000. Saat itu, harga kembang semangkuk setengah kering Rp. 100.000 per kg,” kata Zainal di kediamannya, Senin (19/1/2026).
Zainal mengatakan uang hasil penjualan kembang semangkuk dibagi rata kepada enam orang anggota, masing-masing memperoleh Rp 2.500.000 per orang. Hasil ini bisa membantu penghasilan keluarga masing-masing.
“Kami hanya butuh waktu satu minggu masuk ke dalam hutan mencari kembang semangkuk, hasilnya lumayan bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.
Darian, salah seorang penampung kembang semangkuk di Kenegerian Terusan menyatakan di kalangan Masyarakat Adat, kembang semangkuk ini disebut buah dewa karena harganya cukup tinggi. Darian mengaku sering menerima hasil buruan kembang semangkuk dari Masyarakat Adat. Setelah dibeli dari Masyarakat Adat, biasanya kembang semangkuk akan dikirim ke penampung besar yang ada di Gema dan Kenegerian Gajah Bertalut.
Darian mengatakan menjadi penampung lokal, penghasilannya tidak sebesar para pemburu kembang semangkuk. Ia menyebut untuk satu kilogram kembang semangkuk hanya mendapat sekitar Rp 1.000 – 2.000 per kg.
“Tidak banyak tapi cukup untuk makan,” katanya.

Kembang semangkuk kering dijual Rp 125.000 per kg. Dokumentasi AMAN
Kembang Semangkuk Kaya Manfaat
Darian menjelaskan kembang semangkuk banyak dicari orang karena memiliki khasiat yang bermanfaat untuk kesehatan. Di kalangan herbal, kembang semangkuk disebut-sebut dapat meredakan panas dalam, sariawan, radang tenggorokan, dan batuk. Kemudian, bisa juga bermanfaat untuk melancarkan pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas), menjaga kesehatan kulit, jantung, tulang, dan mata karena kaya antioksidan, vitamin, serta mineral.
Disebutkan, kembang semangkuk ini bisa disajikan dalam bentuk minuman hangat dan dingin yang dicampur gula aren atau gula batu.
“Bagi Masyarakat Adat, kembang semangkuk ini sudah lama dijadikan herbal tradisional. Ramuan ini diwariskan secara turun temurun oleh leluhur,” tuturnya.
Darian mengatakan selain memiliki khasiat untuk kesehatan, kembang semangkuk ini juga memiliki nilai ekonomi sehingga menjadi sumber alternatif perekonomian Masyarakat Adat. Ia menerangkan sebelum mengenal obat kimia, Masyarakat Adat memanfaatkan herbal sebagai obat utama, salah satunya kembang semangkuk.
“Kembang semangkuk telah menjadi bagian perjalanan dalam herbal tradisional di komunitas Masyarakat Adat Subayang,” pungkasnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Riau