Oleh : Pauzan Azima

Aikmel adalah sebuah desa di Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Desa Aikmel memiliki wilayah adat yang diadvokasi oleh komunitas adat Batu Rentek.

Desa yang terletak di jalur strategis ini juga memiliki aset wisata karena di lokasi ini banyak ditemukan destinasi wisata seperti Mualan Beleq (mata air besar) di dusun Cepak Daya. Mata air ini punya keunikan sehingga kerap dijadikan tempat pemandian sebagai penangkal penyakit. Beberapa orang percaya airnya suci hingga dijadikan tempat keramat.

Selain itu, hal lain yang membuat desa Aikmel menjadi destinasi wisata adalah karena desa ini miliki tradisi dari leluhur Masyarakat Adat Sasak yang dipercaya memiliki hubungan erat dengan syariat agama. Salah satunya tradisi Memace.

Memace adalah tradisi sastra lisan yang dilaksanakan atau diselipkan pada prosesi acara tertentu.

Amaq Angkasah, 85, tetua kebudayaan di desa Aikmel menyatakan tradisi Memace sering digunakan pada saat acara pernikahan. Dikatakannya, tradisi sastra lisan ini biasanya dilaksanakan pada malam hari setelah Isya, dan selesai pada dini hari, bahkan seringkali sampai subuh.

"Hal itu sangat tergantung pada kitab apa yang dibaca, dan pada acara apa," ungkap Amaq Angkasah saat ditemui  di kediamannya pada 18 November 2023.

Ia menjelaskan tradisi ini memiliki unsur dan elemen tertentu saat melaksanakannya, yakni Pemace atau Pemaos (orang yang membaca kitab dengan melagu atau mendayu-dayu dengan nada pakem khas syair Sasak), pencerita atau penerjemah  yang bertugas menerjemahkan bacaan dari pemace, dan nyokong atau penonton, sering disebut pelengkap suara (bertugas membantu meninggikan nada-nada dari pemace secara berbarengan).

Amaq Angkasah menerangkan tiga elemen ini membentuk fungsinya masing-masing, yang selanjutnya menentukan jalan cerita dan makna di setiap kisah yang dilantunkan dengan nada-nada pakem Memace.

"Masing-masing cerita dan acara memakai nada berbeda, seperti di acara pernikahan, kita pakai pakem nada Asmaradane," terangnya.

Amaq menambahkan biasanya, pemace atau pemaos memulai bacaan atau sebelum membuka kitab yang akan dibaca, lebih dahulu melafazkan Bismillah.

“Ini karena orang Sasak mayoritas Islam,” ujarnya.

Bahkan, kata Amaq, ada ungkapan yang sangat populer di kalangan Masyarakat Adat Sasak terkait hal itu, yakni  "Ndek Islam, berarti ndek dengan Sasak. Dengan Sasak berarti iye Islam" yang artinya tidak Islam, itu berarti bukan orang Sasak. Orang Sasak, berarti dia Islam.

Amaq menerangkan kitab-kitab yang dilantunkan dalam tradisi Memace selalu terkait kisah-kisah para nabi. Setiap acara mempunyai bacaannya tersendiri,  semisalkan saat prosesi pernikahan, kegiatan Memace akan melantunkan kisah Nabi Yusuf. Prosesi panen padi atau sapi dibacakan kisah Nabi Adam. Untuk Sunatan dibacakan kisah Nabi Ibrahim.

Dalam pandangan Masyarakat Adat Sasak, kisah-kisah yang dibacakan itu dinilai sebagai alegori akan suatu kebaikan. Oleh sebab itu, kisah-kisah yang ada di dalamnya ditransmisikan menjadi doa dan wujud syukur terhadap kehadirat Tuhan.

Tergerus Perkembangan Zaman

Amaq Angkasah mengaku dulu punya banyak jam terbang dan sering diundang untuk melakukan tradisi Memace. Namun pada masa ini, akunya, tradisi leluhur tersebut sudah tergerus oleh perkembangan zaman. Amaq menyebut hanya beberapa orang generasi sekarang yang peduli dengan tradisi Memace ini.

“Saat ini, tradisi Memace hanya dilestarikan oleh Komunitas Adat Batu Rentek,” katanya sembari menerangkan komunitas adat ini binaan PHD AMAN Lombok Timur.

Amaq mengatakan pihaknya berharap tradisi Memace ini bisa terus dilestarikan. Beberapa program, termasuk advokasi keberadaan seniman Memace yang masih ada di Desa Aikmel, juga bisa dilakukan untuk menjaga tradisi tersebut.

“Bagi saya, tradisi-tradisi leluhur mengandung banyak sekali nilai edukatif, mulai dari cara berpikir dan lebih beretika ketimbang kebudayaan asing yang dikenal dari media-media sosial (sosmed). Karena itu, tradisi leluhur ini harus lestari,” paparnya sembari berharap pihak pemerintah berperan penting untuk menjaga tradisi Memace ini agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Lombok Timur, Nusa Tengara Barat

 

Tag : Lombok Timur Tradisi Memace