Oleh : Nesta Makuba

Tradisi Pesta Pasar Babi atau yang lazim dikenal dengan sebutan Atatbon ini sudah dilaksanakan oleh Masyarakat Adat Suku Muyu sejak 21 tahun yang lalu di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.

Namun, tradisi yang kental dengan cerita mistis dan menyimpan kekuatan supranatural ini hampir terancam punah karena sudah mulai ditinggalkan oleh generasi penerus Suku Muyu.

Pesta Atatbon identik dengan penggunaan kekuatan supernatural. Unsur supranatural ini terlihat saat penyembelihan babi keramat dalam persiapan pesta Atatbon. Upacara penyembelihan babi dilaksanakan apabila pohon keramat telah ditanam, apabila api telah menyala di dalam rumah upacara, dan apabila kandang babi telah selesai dibangun.

Untuk menjamin bahwa penerapan kekuatan-kekuatan supernatural itu tidak diganggu oleh pengaruh-pengaruh yang buruk, ditunjuk seorang petugas untuk menjalankan kegiatan supernatural tersebut. Petugas itu disebut Amin bon tibri.

Petugas ini harus tunduk kepada aturan, mulai dari upacara membawa masuk api ke dalam rumah upacara. Ia juga tidak boleh menyantap makanan yang diolah wanita, dan secara khusus ia tidak boleh bersanggama dengan seorang wanita. Kemudian, tidak boleh minum air kecuali air tebu, dan ia tidak diperkenankan mandi.

Amin bon tibri dilarang makan udang, ulat sagu, ikan, daging babi, dan daging kasuari. Pada hari sebelum kedatangan tamu, ia mengumpulkan segala macam barang yang ditanamnya atau diletakkannya di samping pohon waruk, untuk mempengaruhi penjualan daging babi secara tunai. Di sekitar batang pohon itu, ia juga mengumpulkan barang-barang yang diperlukan untuk memasak daging babi, misalnya kulit kayu.

Disitulah ia duduk, di samping pohon dengan menggunakan segala macam sarana, ia memberi kekuatan supernatural kepada anak panah, dan menyebut sembilan bahan makanan yang dianggap memperkuatnya.

Kemudian, pada pagi hari, ia memanah babi pertama dengan anak panah tadi. Akan tetapi, babi itu tidak boleh langsung mati sebab maksudnya ialah agar kekuatan-kekuatan supernatural yang terkumpul di babi itu akan menular kepada babi-babi lain.

Pengaruh supernatural yang keluar dari babi yang terluka itu disebut íptèm, dan dapat memiliki akibat yang baik maupun buruk.

Tujuan lain dari memanah babi yang tidak langsung mati tersebut adalah untuk menjamin penjualan daging agar lancar secara tunai. Sebelum membunuh, tokoh waruk yang disebut Amin bon tibri itu menyajikan potongan-potongan kecil sagu dan daging babi kepada makhluk-makhluk halus. Sebagai cara mengundang mereka untuk menghadiri pesta. Makhluk-makhluk halus itu dipanggil dengan namanya.

Kalau ini tidak dikerjakan, semua jerih payah untuk mendatangkan kekuatan supernatural akan sia-sia belaka.

Suku Muyu Mandobo Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan

Pesta Sakral

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boven Digoel, Adrianus Moromon menyatakan pesta Atatbon bagi Suku Muyu Mandobo merupakan pesta sakral yang bertujuan mendatangkan berkat, juga mempererat hubungan persaudaraan.

Adrianus menerangkan pesta Atatbon ini tidak hanya menjadi tempat jual beli babi, namun juga sebagai tempat tukar menukar barang. Babi dapat ditukar dengan barang yang memiliki nilai ekonomi.

Selain itu, kata Adrianus, pesta Atatbon ini juga bisa digunakan sebagai tempat menukar ilmu sakti “waruk”.

“Semua itu bisa dilakukan di pesta Atatbon, kita juga bisa menukar barang-barang sakti atau ajaib di pesta tersebut,” terangnya belum lama ini.

Adrianus menambahkan pesta Atatbon juga bisa dimanfaatkan oleh para pria untuk melamar anak perempuan. Sebab, di pesta ini akan banyak anak perempuan yang datang  untuk dilamar.

Adrianus menerangkan tradisi pesta Atatbon ini merupakan adat budaya yang dilakukan secara turun temurun oleh Suku Muyu Mandobo. Di pesta ini, babi menjadi sumber pendapatan. Hanya saja, pesta Atatbon ini tidak sembarang bisa dilakukan. Menurut Adrianus, pesta Atatbon ini bisa dilakukan pada pesta-pesta tertentu yang diselenggarakan oleh pihak adat, gereja dan pemerintah.

“Jadi, tidak sembarang orang bisa melaksanakan pesta Atatbon, kecuali pihak adat, gereja dan pemerintah,” katanya.

Adrianus mengutarakan tradisi pesta pasar babi atau Atatbon ini merupakan tradisi yang kental dengan cerita mistik , dimana babi yang disajikan untuk acara tradisi ini harus babi jantan yang masih hidup dan belum dikebiri.

“Harus babi hidup yang dikurung dalam pagar, kemudian disembelih. Bukan babi yang sudah mati karena itu pantangannya,” ujarnya.

Dijelaskannya,  pesta Atatbon ini merupakan salah satu tradisi yang mirip dengan bazar (penggalangan dana). Apa yang tidak dimiliki oleh suku tertentu, akan terpenuhi dengan adanya pesta ini. Sebab, di pesta ini akan hadir tamu undangan dari berbagai suku dengan membawa kelebihannya.

Menurut Adrianus, tradisi pasar babi (Atatbon) ini harus dilestarikan agar tidak punah. Sehingga nantinya dapat diteruskan oleh anak-cucu Suku Muyu Mandobo.

Terancam Punah

Yustinus Andap dari Lembaga Masyarakat Adat  (LMA) Mandobo Kabupaten Boven Digoel, menyatakan sedih terhadap terhadap prilaku generasi muda Suku Muyu Mandobo saat ini yang mulai tidak lagi menjalankan kehidupannya sesuai budaya dan norma adat.

Menurutnya, banyak anak cucu Suku Muyu Mandobo yang tidak mengetahui tradisi Atatbon sehingga dikhawatirkan tradisi ini akan punah. Untuk itu, katanya, kelembagaan Masyarakat Adat perlu segera ditata kembali untuk menumbuhkan cinta budaya di kalangan genera muda Suku Muyu Mandobo.

“Penataan kelembagaan Masyarakat Adat ini perlu segera dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap merosotnya nilai-nilai budaya generasi muda Suku Muyu Mandobo saat ini,” cetusnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Papua

Tag : Tradisi Atatbon Suku Muyu-Mandobo Kekuatan Supranatural Papua Selatan