Oleh Anagret Rosalia Eluay

Ini kisah kampung halamanku. Udara segar di pedesaan mengingatkan saya: betapa terikatnya kita dengan ritme bumi dan langit, cuaca dan musim.

Saya tinggal di Kampung Sereh yang dihuni suku Helle Wabhouw. Lokasinya berada di bawah kaki gunung Cycloop, Kabupaten Jayapura Sentani, Papua. Dulunya kampung saya berada di Pulau Ajau, satu wilayah dengan kampung lainnya seperti kampung Simporo, Babrongko, Hobong, Ifar Besar, dan Ifale.

Selang beberapa waktu, kampung Sereh pindah dari pulau Ajau ke kampung yang baru letaknya di tepian Danau Sentani. Setelah itu, ada beberapa suku dari kampung lain yang ikut pindah antara lain suku Assatouw, Limea Mefa, Ematouw, Melamiimea, Limea Khabang, Kikea, dan Huwea bhu Nolouga (Suebu). Dari beberapa suku yang pindah, hanya suku Limea Khabang (rumah besar) yang sudah jadi Ondofolo (pemimpin adat) dalam kampung Sereh.

Dalam perjalanan pindah ke kampung yang baru tersebut, mereka menggunakan perahu kayu (eymoli) yang moyangnya adalah Robonggoy. Pengemudi perahunya berasal dari suku Suebu. Mereka pun tiba di kampung baru, yang dalam bahasa Sentani disebut Masyarakat Adat: Reneijo yang artinya Renei adalah nama tempat dan Jo adalah kampung.

Saat itu, di Reneijo belum ada penghuni sama sekali, bahkan rumah tidak ada. Di kampung Reneijo ini, di bagian tepian danau ditumbuhi dengan pohon-pohon besar. Ada pohon kayu besi, pohon beringin dan lain-lain. Pohon-pohon tersebut sangat lebat dan dahan-dahannya menjuntai hingga ke bawah tanah sampai terkena air danau.

Bapak-Bapak membuat kerajinan dari bambu.

Di balik rindangnya kampung Reneijo, namun ada juga cerita hal-hal gaib disana. Tempatnya seperti mistis dan keramat. Di kampung tersebut tidak bisa sembarangan orang masuk untuk mengambil kayu atau benda-benda lainnya. Karenanya, pada saat itu juga orang Sentani Tengah sangat takut untuk masuk mengambil sesuatu di kampung tersebut.

Sebelum Masyarakat Adat di sana membangun rumah dan pemukiman di kampung Reneijo, ada salah seorang yang mempunyai kemampuan mengusir roh jahat atau penguasa-penguasa bumi dari kampung itu.

Roh jahat dalam bahasa Sentani biasa disebut Nalli, Walobho, Enalo, dan Hambu. Bagi Suku Ondikeleuw, mengusir roh jahat di tempat itu cukup dengan menancapkan kayu sowam (kayu hitam) di kampung Reneijo sehingga roh-roh jahat itu terusir dan pindah ke tempat lain.

Upaya ini membuat Masyarakat Adat Kampung Sereh terlindungi. Tidak ada gangguan dalam membangun rumah atau pemukiman sehingga anak-anak, ibu-ibu bahkan bapak-bapak atau siapa saja tidak ada yang sakit, kecelakaan atau mati.

Kayu yang ditancapkan Suku Ondikeleuw ini sangat awet (howam baillo) dan bisa bertahan lama. Setelah itu, Masyarakat Adat bisa membangun rumah untuk mereka tinggal. Selama mereka tinggal di kampung Reneijo, mereka hidup dengan makanan-makanan pokok dari alam seperti sagu, ikan, sayur dan ubi-ubian.

Masyarakat Adat kampung Sereh menggunakan alat sederhana (tradisional) seperti Wauw, Phei, Khoning, Khatau, Khakai (perahu besar), Ifaa (perahu kecil) jala atau jaring untuk menangkap ikan.

Ada juga, Masyarakat Adat di Kampung Sereh menggunakan peralatan dari sisa-sisa Perang Dunia II. Sementara, rumah yang mereka tempati memakai daun sagu untuk atapnya, dindingnya dengan pelepa sagu. Namun, seiring perjalanan waktu di era tahun 60 sampai 70, mereka memakai atap dengan seng. Tapi, seng bekas perang dunia.

Saat itu pun untuk sekolah, mereka harus menyeberang ke Phulende Hamayo (Ajau) karena di sana ada SD bahkan gereja juga ada. Setelah itu, baru kemudian Masyarakat Adat Sereh membangun gereja di kampung mereka sendiri Reneijo.

Bagi anak-anak yang sekolah SD, mereka cukup menyeberang ke pulau Ajau. Namun untuk SMP, mereka harus berjalan kaki ke kota karena sekolah SMP hanya ada di kota Sentani. Sementara untuk SMA, mereka harus pergi jauh lagi ke Abepura karena pada waktu itu sekolah SMA hanya ada di Abepura. Pendidikan pada waktu itu sangat sulit karena jarak tempuhnya jauh dan kendaraan juga sangat minim.

Masyarakat Adat di sana pada saat itu berkebun di dataran kaki gunung Cycloop, yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka. Mereka harus jalan kaki dari Kampung Reneijo ke kaki gunung Cycloop hanya untuk berkebun menanam pisang, ubi-ubian seperti yarra, faam, ninggeiy, sayur lilin, sayur gedi, bayam asli (olonggo), semangka, mentimun, dan juga jagung.

Pindah Kampung

Memasuki tahun 70-an, Dortheis Hiyo Eluay (yang kini sudah meninggal) dalam rapat-rapat kerap bicara mengajak pindah dari kampung Reneijo ke dataran rendah kaki gunung Cycloop, dekat kota Sentani. Alasannya, mereka banyak keluar negari melihat banyak kemajuan, karenanya mereka juga ingin membawa seluruh Masyarakat Adat Kampung Sereh untuk tinggal di bawah dataran kaki gunung Cycloop agar pendidikan dan pertanian bisa dinikmati dengan baik serta semua suku dapat menjaga dusun mereka masing dan juga hutan adat mereka.

Yosafat Phulekho Eluay selalu Khoselo atau tetua adat mengatakan hal yang sama juga jadi pertimbangannya agar pendidikan lebih dekat dan kelima suku yang ada di kampung Sereh bisa menjaga dusun dengan baik.

Hutan Adat Dirusak

Sampai sekarang, Masyarakat Adat kampung Sereh hidup dan berkembang di bawah kaki gunung Cycloop. Mereka hidup berkebun dan mencari makan di dalam hutan Cycloop.

Namun, seiring berjalannya waktu, hutan adat di tempat mereka saat ini sudah tidak bisa dijaga dan dirusak. Banyak orang dari kampung lain masuk ke hutan mereka dan membuat hutan menjadi rusak.

Adolof Fellle yang merupakan putra kelahiran kampung Sereh mengatakan bahwa mereka punya tanah dan dusun, yang dijaga oleh keluarga. Penjagaan ini bertujuan agar warga kampung lain tidak boleh masuk dan tinggal di wilayah Masyarakat Adat Sereh. Dikatakannya, banyak orang ingin pindah dari kampung Reneijo ke kampung Sereh karena banyak anak-anak yang sekolah tinggi bahkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sampai sekarang tinggal di kampung tersebut. Bahkan, banyak perempuan adat yang berkebun di tempat itu.

Danau Sentani

Tanda Alam

Di dataran kaki gunung Cycloop, Masyarakat Adat kampung Sereh selalu mendapat banyak tanda-tanda alam, terkait air terjun ataupun air bersih untuk masyarakat.

Gustaf Adolf Ayafomo Felle menyatakan banyak orang dari penduduk luar yang suka refresing di air terjun pegunungan Cycloop. Jika naik, jangan membuat hal-hal yang tidak baik atau merugikan hutan karena alam dan penunggu-penunggunya masih ada. Gustaf bercerita pernah ada beberapa orang naik untuk mandi-mandi di air terjun pegunungan Cycloop, namun mereka diganggu oleh penunggu-penunggu alam disana. Hal seperti ini sampai sekarang masih ada.

Dikatakannya, awan di kaki gunung Cycloop juga masih sering kasih tanda tentang kematian di kampung Sereh. “Jika ada awan putih sejajar semua berarti lewat berapa hari akan ada kematian di dalam kampung, yang begini masih sering terjadi sampai saat ini,” ungkapnya.

Sayangnya, sebut Gustaf, hutan adat di dataran kaki gunung Cycloop terancam punah bahkan hilang akibat ulah manusia-manusia gunung yang tidak bertanggungjawab. “Mereka menebang pohon dengan sembarangan, bahkan membakar hutan dengan apu yang mereka buat di dalam pegunungan Cycloop,” paparnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Papua

Tag : Jayapura Cycloop Helle Wabhouw