[caption id="" align="alignleft" width="292"] Budaya Mapas[/caption] Nyaki kuh tatap pai’ mu, akam icak muh panyakit kare bereng Nyaki kuh baun atoi muh, angat atoimu sarongin, tau malaksana dengan atoi barasih Nyaki kuh liko muh, nonga kakuatan utok Nyaki kuh balo muh, akam nagkalau pikiran je panik (Sebuah doa diucapkan Mantir Adat sembari menempelkan uang logam yang dilumuri darah ayam ke bagian tubuh mereka) Pagi di hari pertama pelatihan, enam piring diletakkan di atas tikar khusus yang terbuat dari rotan. Di dalam piring tersebut ada beras, buah pinang, bajakah tengan, uang logam, telur ayam dan manas (sejenis batu-batuan). Ada juga daun sawang dan daun samba belum yang diikat jadi satu, gelas berisikan air putih yang didalamya ada dedaunan yang telah diikat juga, serta seekor ayam kampung yang masih hidup. Ritual pun dimulai. Secara bergantian, tiga mantir adat mengangkat ayam kampung ke atas kepala para fasilitator pelatihan sembari mengucapkan doa. Para fasilitator dipersilahkan menghadap ke barat dulu atau yang sering disebut dengan Pombolup Ondou (Matahari Terbenam), untuk melepas semua hal yang tidak baik bersama dengan terbenamnya matahari, setelah itu menghadap ke timur, sering disebut dengan Pombulum Ondou (Matahari Terbit), agar kehidupan kita selalu bercahaya seperti matahari yang bersinar sepanjang hari. Setelah itu ayam kampung tersebut disembelih, kemudian darahnya dicucurkan ke dalam piring kosong. Darah itu akan menjelma menjadi air Kaharingan bolum yang akan menolak hal-hal tidak baik terbawa dari luar. Darah yang menjelma jadi air Kaharingan bolum itu ditempelkan ke rambut, dahi, dada, dan kaki, melalui perantara sebuah uang logam yang diartikan sebagai sesuatu yang keras dan kuat untuk menguatkan roh. Setiap bagian tubuh tersebut diberikan wejangan yang berbeda-beda. Ketika ditempelkan ke rambut, harapannya agar semua yang tidak baik lewat begitu saja seperti angin yang lewat di atas kepala. Di dahi, agar diberi kekuatan pikiran agar tidak mudah menyerah dalam melakukan pekerjaan. Di depan dada, untuk menguatkan hati pada tujuan semula, walaupun berbagarai rintangan dihadapi. Di kaki, agar kita bisa menginjak penyakit yang ada disekitar kita. Segelas air putih yang telah diberi minyak kemudian dicipratkan ke seluruh bagian tubuh dengan perantara dedaunan yang telah dicelupkan pada air itu. Ini sering disebut dengan Tampung Tawar, gunanya untuk menenangkan diri atau sering disebut dengan Manyarongin (Mendinginkan), sambil mengucapkan wejangan-wejangan. Prosesi ritual yang terakhir ditutup dengan mengikatkan Manas bersama Bajakah Tengan di tangan kanan para fasilitator. Manas terbuat dari batu dan melambangkan sesuatu yang kuat, sulit untuk dihancurkan, Bajakah Tengan adalah akar merambat yang sulit sekali dipotong. Jadi prosesi ini bertujuan untuk mengikatkan kekuatan niat kita bersama perlindungan leluhur agar tidak muda dikalahkan oleh sesuatu yang bertentangan dengan niat kita tersebut. Manas tersebut diikatkan pada tangan kanan, karena tangan kanan dianggap sebagai bagian tubuh yang paling sering digunakan dalam aktivitas kita sehari-hari. Sehingga setiap kita melakukan apapun, kita akan melihat manas tersebut, dan teringat akan niat kita yang kuat. Komunitas Dayak Uut Danum Karetau Sarian percaya bahwa para Leluhur senantiasa bersama mereka untuk melindungi anak cucu dan wilayahnya. Sehingga apapun aktivitas yang dilaksanakan untuk kehidupan mereka dan wilayahnya, wajib meminta izin atau permisi pada Para Leluhur. Agar orang-orang yang melaksanakan aktivitas tersebut dilindungi dari segala hal yang tidak baik, dan aktivitas tersebut dapat membuahkan hasil yang berguna bagi kehidupan komunitas. Karena itu ritual ini disebut dengan “Mapas”, yang artinya Menolak Bala Selain itu, ritual ini juga adalah ucapan selamat datang sekaligus memberitahukan bahwa”kalian telah memasuki wilayah adat kami, kalian akan dilindungi oleh Para Leluhur kami”. Ritual adat membawa kita ke dalam sebuah kesadaran. Kita menjadi sadar bahwa selain manusia, ada alam di sekitar dan kuasa yang lebih tinggi dari pada kita, yaitu para leluhur dan Sang Pencipta. Itulah yang membuat kita selalu punya harapan, karena pekerjaan kita selaras dengan keharmonisasian alam serta penyertaan yang mahakuasa. Inilah salah satu wujud relasi spiritual antara manusia, alam, dan sang pencipta. Relasi yang membuat masyarakat adat mempunyai kepekaan yang lebih pada diri sendiri, sesama, alam dan para leluhurnya. Sebagai contoh kepekaan tersebut, masyarakat adat yang tinggal turun temurun di hutan adatnya, tidak akan sembarangan memanfaatkan hasil hutannya. Hasil hutan dinikmati secara bersama tanpa saling berebut hak. Perlunya mempertimbangkan keberlangsungan hutan jika mengambil hasil hutan, karena selain untuk kehidupan di masa mendatang, hutan juga mempunyai tempat-tempat sakral untuk menghubungkan masyarakat adat sekarang dengan para leluhurnya. Kini tinggal bagaimana relasi spiritual itu, bukan hanya hadir pada moment tertentu saja. Tetapi menjadi bagian dari kehidupan dan berbangsa dan bernegara di negeri ini. karena, pada dasarnya seluruh masyarakat di negeri ini lahir dari leluhur masyarakat adat dan juga dibesarkan oleh alam.(pebri)