Sanur, 1 Desember 2013 - Duapuluh pengurus wilayah dan daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) menghadiri Rapat Kerja Nasional I BPAN, Sabtu (30/11). Ini adalah rakernas pertama sejak organisasi tersebut dibentuk dalam Jambore BPAN di Bogor pada 29 Januari 2012.

Rakernas dibuka secara resmi oleh Sekretaris Jenderal AMAN Abdon Nababan. Sebagai organisasi sayap AMAN yang dirancang untuk mengembangkan generasi penerus pemimpin adat, Abdon bertanya kepada para pemuda adat tersebut mengenai apa yang dapat dikontribusikan oleh BPAN dan rakernas ini terhadap gerakan masyarakat adat.

Dalam kata sambutannya, Abdon meminta para pemuda untuk meningkatkan jumlah anggota BPAN yang kini berjumlah 790 orang, mengembangkan jaringan secara luas, dan merancang program-program yang dapat menarik dan dinikmati sesama pemuda adat.

Abdon juga mengingatkan para pemuda adat mengenai sumber daya yang tersedia bagi mereka, termasuk pengetahuan, komunikasi, dan jaringan yang terbentuk dari komunitas mereka hingga ke tingkat nasional dan internasional yang dapat diandalkan demi pergerakan masyarakat adat di Indonesia. “Semoga pertemuan ini sukses membangun BPAN yang lebih besar dan kuat,” tutur Abdon.

Rakenas ini, dengan fokus untuk menata dan memperkuat organisasi untuk pembelaan, perlindungan, dan pelayanan terhadap masyarakat adat dan anggota BPAN, dimulai dengan laporan perkembangan organisasi dan implementasi program oleh Ketua BPAN Simon Pabaras.

Para ketua pengurus wilayah dan daerah BPAN juga menyampaikan laporan perkembangan aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan di komunitas masing-masing. Pengurus Wilayah BPAN Maluku Utara dan Sulawesi Tengah serta Pengurus Daerah BPAN Indragiri Hulu, Balangan, Sekatak, dan Kutai Barat tidak menghadiri rakernas ini.

Sejak dibentuk pada Januari 2012, BPAN telah melakukan banyak aktivitas, termasuk memobilisasi dukungan terhadap sejumlah aksi kolektif dan memfasilitasi penyebaran informasi terkait Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012 di komunitas mereka masing-masing. Program pemuda adat juga telah mendapatkan pelatihan pengembangan kapasitas, di antaranya tentang public speaking, investigasi, jurnalisme warga, respon darurat, dan advokasi hak-hak masyarakat adat.

Pada hari kedua rakernas, para pemimpin muda ini merancang anggaran rumah tangga BPAN dan program kerja dua tahun ke depan. Terlihat keinginan nyata BPAN untuk mengembangkan organisasi dan merekrut lebih banyak anggota, meningkatkan pengetahuan dan kapasitas para kader, serta memperbesar keterlibatan dengan media dan pendokumentasian sejarah komunitas adat mereka masing-masing.

Aktivitas hari kedua ditutup dengan rancangan pernyataan para pemuda adat untuk menyikapi berbagai masalah dan isu yang mempengaruhi masyarakat adat, termasuk perubahan iklim dan program REDD+. “Pertemuan ini sukses. Kami tak sabar melaksanakan agenda 2014 dan 2015 kami,” kata Simon.